21.39

Aku pernah kehilangan arah

Saat dimana, aku dihadapkan dengan jalan yang bercabang. 

Saat aku harus memilih salah satu arah diantara perempatan, perenaman, atau bahkan persepuluhan dan bisa jadi jalan itu sangat berlika liku.

Saat itu berbagai pertanyaan datang menyerbuku tapi aku tidak tau arah mana yang harus aku pilih, jalan mana yang harus aku lalui.

Semua itu semakin memperkeruh hatiku, membuatku terserang kegelisahan tak menentu.

Aku terus berjalan menelusuri arah yang tidak ku ketahui, aku ingin berlari secepatnya agar dapat keluar dari jalan hampa ini namun aku takut, aku takut jika ternyata di depanku terdapat jurang yang begitu dalam.

Maka aku lebih memilih jalan perlahan dan terus mencari kunang-kunang untuk menemaniku dalam kegelapan.

Dan pada akhirnya aku bertemu kembali dengan jalan yang bercabang namun kali ini hanya ada dua arah yang aku temui.

Aku menatap kedua jalan tersebut. Jalan yang sebelah kiri tampak sangat gelap tanpa penerang dan jalan sebelah kanan begitu terang, indah dan tampak sangat damai.

Dan aku memilih untuk berjalan ke arah kanan saat langkahku terus menuju pada jalan bercahaya itu aku merasakan ada seseorang yang mengulurkan tangannya dan menggenggamku dengan erat.

Tangan itu begitu halus dan lembut, ku angkat wajahku untuk melihat siapa pemilik kelembutan itu dan aku kembali menemukan kedamaian yang terpancar dari senyum di wajahnya.

Dia terus menggenggam tanganku erat, membawaku menelusuri jalan indah itu dan melepaskanku dari kegelapan yang telah berlalu.

Dan pada akhirnya, aku menemukan kalian. Sang pemancar di kala gelap, sang hangat di kala dingin dan sang damai dalam kelembutan.

semua pertanyaan yang dahulu menyerangku kini telah terjawab satu per satu.

Kunang kunang yang dulu aku cari kini telah ku temukan dan bahkan bukan hanya sekedar kunang-kunang mereka adalah bintang yang begitu terang dan akan selalu menemani malam yang gelap.

Aku, sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukanku dengan kalian, wahai sahabat syurgaku.

Sahabat,

Tetaplah genggam erat tanganku, 

Tetaplah rangkul diriku,

Tetaplah bersamaku,

Dan jadilah sahabat syurgaku

Tetaplah jaga halaqah yang indah ini dengan penuh cinta.

Aku bukanlah orang yang baik, aku bukan orang pandai, aku juga tidak akan bisa menjadi seperti yang orang lain inginkan.

Tapi ketahuilah, apa yang aku lakukan adalah untuk menjadi lebih baik dihadapan Allah bukan untuk dipuji baik oleh manusia.

Terima Kasih

Untuk Kalian

Entah,
Bagaimana cara sang waktu membawaku sampai pada titik ini.

Hati yang awalnya kosong telah berubah menjadi mawar yang bermekaran menyambut bahagia yang begitu indah.

Aku disini terdiam menatap awan hitam yang terus berjalan meminta jingga untuk pergi.

Namun, satu hal yang harus kamu tau meski pandanganku terarah pada langit namun mataku seakan terus terpaku pada kenangan yang melintas di hadapanku.

Kenangan itu memintaku untuk mengingat betapa indah saat kita bersama.

Betapa berwarna saat kau membuatku tertawa.

Semua,

Semua adalah kisah,

kisah yang pernah terjadi dan dilalui memberikan tinta dalam lembar kehidupan yang murni.

Bayangan itu terus mendesakku menatap kilasan-kilasan masa lalu, yang tampak begitu indah namun kini semua hanyalah angan.

Sahabat,

Bolehkah aku bercerita tentang aku yang dulu hingga aku mengenal kata kita.

Dulu,

Saat jahiliyah menutupiku untuk dapat melihat betapa indah kedamaian, membekukan hati menyisakan kekosongan, semua adalah kehampaan yang terpendam.

Aku tidak tau, jalan mana yang harus aku lalui. Langkah mana yang harus aku pilih.

Kegelisahan dalam hati selalu menohok meminta aku untuk pasti.

Namun aku bingung, aku tidak mengerti, semua seakan semu, hilang tak berati, hanya ada kegundahan dalam hati yang tak pasti.

Aku terus berjalan tanpa tau arah tujuan, melewati setiap detik waktu yang terus mengingatkan.

Hingga pada akhirnya aku menemukannya, seseorang yang tak ku ketahui siapa dirinya, menatapku dengan pasti membuat diriku seakan terpaku untuk terus harus melihatnya.

Pandangan lembut itu mampu merobohkan hati yang dulu beku untuk berubah menjadi hati yang tenang dan damai.

Dia ulurkan tanganya yang halus, menyambut diriku dengan senyuman, menggenggam tanganku erat, membawaku ke suatu tempat yang baru untukku.

Dan disitulah,

Awal mula aku mengenal 

KALIAN.

Saat dimana aku pertama kali menginjakkan kaki di suatu tempat yang memberikan kedamaian, tempat yang memberikan kebahagiaan dan tempat yang akan selalu meningkatkan kerinduaan.

Tempat itu yang menjadi saksi pertemuan aku dengan kalian.

Aku datang dengan rasa malu dan ragu. Karena memang itu adalah hal yang baru bagiku.

Rasa ragu dan ketakutan yang ada pada diriku seakan sirna saat kalian menyambutku dengan senyuman dan sapaan mengalun indah di telinga.

Ternyata kalian dan dirinya adalah sama, sama-sama orang yang dapat memberiku keyakinan.

Detik demi detik telah berganti menjadi menit, menit yang berlalu telah berubah menjadi jam. Jarum hitam itu terus berputar mengelilingi jam.

Hari terus berganti, semakin lama aku semakin yakin bahwa ini adalah jawaban atas apa yang ku cari.

Setiap hari yang kita lalui, begitu indah dan tak dapat kulupakan.

Halaqah cinta yang begitu indah, tak akan mampu membuat ku lupa betapa indah karunia Allah yang telah memberiku kesempatan untuk mengenal kalian.

Halaqah itu menjadi bukti betapa besar perjuangan yang kita lalui.

Selalu terselip cerita suka maupun duka dibalik apa yang terjadi.

Sahabat,

Cobalah kalian ingat bagaimana perjuangan kita. Perjuangan yang kita lalui dengan penuh cinta.

Saat dimana, lantunan takbir menggema mengiri langkah kita untuk menjaga agar sebuah lilin itu tetap menyala.

Mengharapkan selembar kain yang berlambangkan sesuatu yang sangat berharga untuk kita.

Dengan semangat yang terus berkobar dan atas ridho Allah kita meraih itu semua. Air mata menetes dari setiap jiwa tapi tenang itu bukan tangis kesedihan, namun itu adalah air mata kebahagiaan.

Sahabat, 

Itu bukanlah akhir dari perjuangan kita, justru itu adalah saat dimana perjalanan kita dimulai.

Disini kita mempunyai tujuan yang sama, untuk berjuang di jalan Allah.

Saat ada yang ingin terjatuh, kita saling mengenggam untuk menjaga. Saat ada yang merasa lelah kita saling merangkul untuk menguatkan.

Sahabat,

Ingatkan kalian saat kita dengan bahagia memakai pakaian putih, membentuk halaqah besar dengan pasti menggemakan takbir untuk memulai perjuangan kita.

Bukan hanya satu atau dua kali tapi semua itu telah kita lalui berkali-kali.

Meskipun mata memberitahu lelah namun senyum tak pernah luntur dari wajah kalian.
Keikhlasan hati yang membuat semua terasa mudah dan indah.

Semua itu, Semua itu begitu bermakna.

Ukhuwah yang terjalin begitu indah, menyatukan para jiwa yang murni untuk menjadi satu membentuk kesetiaan untuk selalu bersama.

Sahabat, 

Kenangan itu begitu menusuk hatiku. 

Semua itu membuatku rindu memuncak.

Sahabat, 

Aku hanya ingin bertanya

Apa kamu sudah tidak sanggup untuk berjuang bersamaku?

Apa rasa lelahmu mampu mengalahkan semua kenangan indah kita untuk tetap setia?

Apa kamu tidak ingin menggapai syurga bersamaku?

Sahabat,

Dimana Ukhuwah kita yang dulu?

Ukhuwah yang terjalin begitu erat, menjaga kita agar tak terlepas darinya.

Akhi

Ukhti

Boleh aku mengungkapkan perasaanku saat ini, bahwa aku sangat merindukan kalian.

Apa hanya aku, dia dan mereka yang merasakan hal yang sama.

Sahabat,

Semua itu bukan hanya tentang kami tapi tentang kita.

Rohis adalah kita.

Rohis adalah aku, kamu, dia, mereka dan kalian.

Sahabat,

Kapan Ukhuwah kita akan kembali erat seperti dulu ?

Kapan rindu ini akan menemukan balasan ?

Aku tidak meminta banyak kepadamu, kembalilah mejadi kalian sang penyejuk jiwa.

Bawalah kembali perekat Ukhuwah kita agar kembali erat, menyatu dan setia.

Sahabat aku berharap itu bukan hanya sekadar harap namun dapat menjadi nyata dan kita kembali melukis cerita.

Disini aku menanti dirimu untuk kembali bersamaku.

A

K

U

R

I

N

D

U
K

A

L

I

A

N

Our Ukhuwah is way to jannah

12.00

Tepat ketika matahari berada di atas kepala dan jam menunjukkan pukul 12.00. Aku disini duduk terdiam menatap ke depan menunggu detik yang terus berputar berubah menjadi menit dan menit yang terus berlalu berganti menjadi jam.

Menunggu jarum pendek itu berputar mengelilingi jam hingga menunjukkan saat dimana akan tiba dirimu.

Saat dimana sang jingga yang memberi kedamaian dan ketenangan menyatu dengan diriku.

Senja, 

Aku disini menanti dan merindukan dirimu.
DB.LS

11.05

Akhi

Ukhti

Situ sedih karena jomblo

Hey, gak usah khwatir kali

Yang udah halal aja pasti pernah ngerasin yang namanya jomblo.

Setiap manusia di dunia ini diciptkan berpasang-pasangan.

Jangan takut dan khwatir bila saat ini kamu belum menemukan Dia.

Bisa jadi malah Dia yang menemukanmu.

Akhi 

Jika kamu tidak menemukan Dia di dunia ini berati Dia sedang menantimu di surga sana, Dia adalah Bidadari Surga.

Ukhti, bila Dia belum menjemputmu disini, berati dia akan menemuimu di Sana, seorang ikhwan tampan yang akan melengkapimu di surga.

So, Jangan takut Jomblo

Karena Ikhwan keren adalah dia yang memperbaiki dan berani menghalakan.

Dan Akhwat kece adalah dia yang sanggup menjaga dan menanti.
Yuk Hijrah

Salam Jomblo